Bukan bermaksud Plagiat tapi tulisan yang pantas untuk mendapat apresiasi dan memang sudah ada izin untuk mengutip :) . Karya luar biasa dari kandaku Sabir Al Junaid.
Ini bukan lagi tentang kisah, bukan pula sebuah epik, ataupun galau, bukan juga sebuah melodrama yang dibungkus dalam pernikahan kata demi kata, tapi ini tentang harapan pada kampung yang telah akan kehilangan roh dan sosok pemimpin.
seperti yang diceritakan dalam Ajaran ZARATHUSTRA ( kitab Majusi ) Saat menantikan Ajaran Islam sebagai Rahmat seluruh Alam, begitu juga di kampung kami, menantika sosok yang yang dapat mengayomi dan menjadi figur bagi para penduduk akademik.
"jangan pernah mengatakan kamu tidak mencintainya lagi jika kamu masih tidak dapat melupakannya, maka aku masih mencintai kampungku, tak ingin melihatnya ternoda oleh sikap dan ego kalian. maka aku mengurungkan niatku sementara untuk meninggalkanmu
" Kami menantikan sosok, figur, pemimpin seperti orang penganut Ajaran Majusi yang menantikan agama yang akan membawa mereka pada jalan yang sebenrnya.."
Dan pada akhirnya, kami hanya dapat berbicara, lalu engkau mengejek, dan pada akhirnya, kami hanya dapat menyulut api, lalu engkau murka, dan pada akhirnya kami hanya dapat berbuat, engkau yang menterjemahkan"...
Sabtu, 24 September 2011
This is my life, this is my story
Dia, si gadis kecil dengan rambut panjangnya yang diikat dan dengan mata sipitnya. Duduk termenung sambil menatapi atap sebuah gubuk. "Hemm.... Nantinya jadi apa yah?? Polwan, dokter, pramugari, Insinyur, atau Direktur yah?? sepertinya semuanya bagus. Wahh Hasna bingung deh, kalau bagini semuanya ajah deh."
Yah, Hasnawati Lahamuddin daeng Tanning. Gadis cilik ini masih duduk di bangku kelas 1 SD pada 12 tahun yang lalu. Gadis cilik yang lahir di keluarga pas-pasan. putri ke-5 dari Polisi dengan gaji dan pangkat yang rendah, bahkan bisa di golongkan miskin. Namun miskin tidak dapat di jadikan kendala dalam bercita-cita.
Berawal dari bangku SDI Panrannuangku Kab. Takalar gadis kecil mendapatkan pendidikan. mulai dari pendidikan umum atau formal, pendidikan rohani, maupun pengetahuan tentang daerah. Namun hal yang paling sering diajarkan ataupun ditekankan kepadanya adalah pelajaran siri' dan pacce oleh tettanya (bapaknya).
Hidup dalam status sosial yang rendah, tekanan dari lingkungan sosial, bahkan tekanan dari lingkungan keluarga sendiri adalah bukan perkara yang mudah untuk perkembangan kesehatan mental dari seorang gadis kecil. Namun, hal itu dapat dilalui dengan adanya beberapa orang seperjuangan dan sependeritaan dibelakangnya. Hidup dengan ayah yang bijak, ibu yang super tabah, serta 4 orang kakak yang sangat penyayang adalah kekuatan yang sangat luar biasa.
Namun tiba-tiba saja sosok ayah yang luar biasa bijaksananya menjadi salah satu bom atom yang menjadi penghancur pondasi ketegaran dari gadis ini. Masalah-masalah kehancuran keluarga kian lama makin terlihat, ayah yang tadinya merupakan benteng kuat malah menghancurkan harapan-harapan akan masa depan sang gadis cilik ini.
Baiklah mula-mula kita akan membicarakan tentang tekanan sosial dan keluarga dulu. Tetta dari gadis kecil ini merupakan anak bungsu dari 6 bersaudara. 5 kakak dari si 'Tetta' ini hidup bahagia dan makmur sedangkan si 'tetta' hanya polisi dengan pangkat terendah. 5 kakak dari si 'tetta' ini masing-masing memiliki banyak anak dan kebanyakan anaknya memang sudah berhasil sedankan si gadis bersaudara masih belum ada yang berumur dewasa sehingga belum ada yang berhasil sehingga pasti sudah jelas mengapa ada tekanan dari keluarga si 'tetta' karena mereka semua 'KAYA' dan keluarga sitetta adalah keluarga pas-pasan.
Kembali ke cerita awal..... Sepertinya ceritanya akan berlanjut nanti, tdak sekarang :)
Langganan:
Postingan (Atom)
