Dahhh..... see u next time yah! :)
Selasa, 18 September 2012
Assalamualaiku..... wah long time no see dengan dunia blogi. Apa kabar? Baik dong pastinya. untuk saat ini posting mata kuliah dulu deh, masalah persajakan nanti sajalah. kata-kata untuk tulisannya masih terproses di dalam otak. jadi untuk sesi ini kangen-kangenan dan say hay saja.
Dahhh..... see u next time yah! :)
Dahhh..... see u next time yah! :)
Mid Psikologi Perkembangan Remaja
Hasnawati Lahamuddin
1171040076
A.
Introuction
1.
Dalam perspektif sejarah remaja, terdapat pembagian
jaman. Yang pertama adalah Jaman Yunani. Pada jaman Yunani kuno, baik
Plato maupun Aristoteles membuat pernyataan tentang remaja. Seperti yang dijelaskan
dalam buku The Republik, Plato menjelaskan tentang tiga faset dari perkembangan
jiwa manusia yaitu keinginan, semangat dan nalar. Menurut Plato, nalar
merupakan faset tertinggi yang muncul pada saat remaja. Aristoteles menegaskan bahwa hal terpenting dalam
masa remaja adalah pembentukan kemampuan untuk memilih. Menurut Aristoteles, kemampuan
untuk menentukan secara mandiri ini merupakan tanda dari kematangan. Ia percaya
bahwa pada permulaan masa remaja indiviu tidak stabil dan tidak sabar, karena
kurang adanya kontrol diri yang dibutuhkan untuk menjadi seseorang yang matang.
Jaman Pertengahan dan Masa Pencerahan anak dianggap sebagai miniatur
orang dewasa. Anak dan remaja dianggap mempunyai minat yang sama dengan orang dewasa.
Dan karena mereka hanyalah orang dewasa mini, mereka juga diperlakukan seperti
orang dewasa dengan disiplin ketat dan keras. Jaman ini anak dan remaja disamakan
dengan orang-orang dewasa. Namun pada abad ke-18 Rousseau menawarkan pandangan
positif tentang remaja. Dia berpendapat bahwa memperlakukan orang dewasa mini ini
sangat berbahaya. Remaja Pada Tahun-Tahun Pertama Berdirinya Negara Amerika,
kesempatan untuk bersekolah menjadi kenyataan dan lebih banyak pilihan untuk
berkarir. Tetapi meningkatnya kekacauan dan kekerasan menjai ciri masyarakat
waktu ini. Pada masa permulaan republik, remaja mulai melakukan perpindahan dari
daerah ke perkotaan. Remaja laki-laki sudah mulai melakukan magang di berbagai
tempat kerja. Abad ke-20, pada masa ini remaja mendapat status yang lebih baik dalam
masyarakat sekaligus melalui beberapa perubahan yang kompleks. Sikap pasif dan
konformitas pada kepemimpinan orang dewasa digantikan dengan meningkatnya otonomi
dan konformitas pada nilai teman sebaya. Orang dewasa mulai meniru gaya remaja,
bukan sebaliknya.
2.
Remaja adalah suatu tahap
pertumbuhan atau transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Dalam buku
karangan Hurlock masa remaja dalam 2 yaitu remaja awal (13-16/17) dan remaja
akhir (16/17-18). Menurut Konpka (Pikunas, 1976) masa remaja ini meliputi (a)
remaja awal: 12-15 tahun; (b) remaja madya: 15-18 tahun; (c) remaja akhir:
19-22 tahun.
3.
William Kay mengemukakan tugas-tugas
perkembangan remaja sebagai berikut :
a)
Menerima fisiknya sendiri berikut
keragaman kualitasnya.
b)
Mencapai kemandirian emosional dari
orangtua atau figur-figur yang mencapai otoritas.
c)
Mengembangkan keterampilan
komunikasi interpersonal dan belajar bergaul dengan teman sebaya atau orang
lain, baik secara individu maupun kelompok.
d)
Menemukan manusia model yang
dijadikan identitasnya.
e)
Menerima dirinya sendiri dan
memiliki kepercayaan terhadap kemampuannya sendiri.
f)
Memperkuat self-control (kemampuan
mengendalikan diri) atas dasar skala nilai. Prinsip-prinsip atau falsafah hidup
(Weltanschauung).
g)
Mampu meninggalkan reaksi dan
penyesuaian diri (sikap/perilaku) kenak-kanakan.
4.
Menurut Hurlock 5 minat perubahan
remaja ialah:
1)
Minat sosial. Misalnya pesta,
minuman keras, percakapan, ketertarikan lawan jenis dan sebagainya.
2)
Minat pribai. Misalnya minat paa
penampilan, an sebagainya.
3)
Minat pada agama
4)
Minat pada pekerjaan
5)
Minat pada pendidikan
5.
Menurut Root dalam Hurlock (2004),
pubertas merupakan suatu tahap dalam perkembangan dimana terjadi kematangan
alat-alat seksual dan tercapai kemampuan reprouksi. Menurut Prawirohardjo
(1999:127), pubertas merupakan masa peralihan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa.
B.
Aspek Biologis
Remaja
1.
Pada masa remaja terdapat 2 jenis
hormon yang sangat penting yaitu anrdogen dan estrogen. Anrdogen adalah hormon
laki-laki dan estrogen adalah hormon perempuan. Testosteron adalah jenis dari
anrdogen yang berperan penting pada sejumlah perubahan fisik pada anak
laki-laki, perkembangan alat kelamin luar, bertambahnya tinggi badan, dan
perubahan suara. Sedankan Estraiol merupakan jenis estrogen yang apabila
kadarnya meningkat maka akan menyebabkan perkembangan payudara, rahim dan
perubahan tulang pada kerangka tubuh.
2.
Perkembangan fisik remaja
|
No.
|
Perempuan
|
Laki-Laki
|
|
1
|
Perkembangan
rahim dan vagina
|
Perkembangan
penis dan kantung zakar
|
|
2
|
Pinggul
melebar
|
Tumbuh jakun
|
|
3
|
Payudara
membesar
|
Suara mulai
pecah
|
|
4
|
Tumbuh bulu
kemaluan dan ketiak
|
Bahu melebar
|
|
5
|
|
Tumbuh
bulu kemaluan dan ketiak
|
3.
Menarche merupkan suatu pertanda dari
kematangan seksual pada remaja perempuan yaitu menstruasi yang pertama.
Biasanya terjadi pada umur 9-15 tahun (Santrock), menurut banyak ahli ini bisa
jadi hal yang paling bersejarah dalam hidup seseorang. Mimpi basah juga
pertanda dari kematangan seksual pada laki-laki.
C.
Perkembangan
Emosi
1.
Pastinya remaja adalah masa yang
menimbulkan ketakutan karena pada masa ini muncul berbagai macam
perubahan-perubahan yang sangat drastis. Mulai dari fisik, peran sosial, bahkan
emosi dan hal-hal lain yang banyak remaja awal yang ketakutan pada proses
penerimaan dan adaptasinya.
2.
Hal ini merupakan peningkatan emosional
yang terjadi secara cepat pada masa remaja awal yang biasa disebut oleh Anna
Freud sebagai Stres & Stroam. Peningkatan emosional merupakan hasil dari
perubahan fisik terutama hormon yang terjadi pada masa remaja. Pada kondisi
sosial, hal ini merupakan pertanda remaja berada dalam kondisi baru yang sangat
berbeda dari masa sebelumnya. Pada masa remaja akan datang banyak tuntutan dan
tekanan misalnya tidak boleh bertingkah kekanak-kanakan, harus mandiri, harus
bertanggung jawab, harus begini, harus begitu, dan sebagainya.
3.
Ciri remaja yang emosinya sudah
matang menurut Hurlock (2000):
a)
Emosinya tidak meledak-ledak dihaapan
orang lain, melainkan menunggu saat dan tempat yang lebih tepat untuk mengungkapkan
emosinya dengan cara yang lebih bisa diterima.
b)
Menilai situasi secara kritis terlebih
dahulu sebelum bereaksi secara emosional negatif.
c)
Memiliki reaksi emosional yang
stabil.
D.
Perkembangan
Sosial
1.
Menurut Ericson, masa remaja terjadi
pada tahap identitas vs kekacauan identitas. Pada saat ini indiviu dihadapkan
pada pertanyaan siapa mereka, mereka sebenarnya apa, dan kemana mereka menuju dalam
hiupnya. Remaja dihaapkan dengan banyak peran baru yang menyangkut masalah
asmara, pekerjaannya bahkan perannya dalam masyarakat.
2.
Seperti kata Ericson bahwa remaja adalah
masa serba bingung dalam pencarian jati diri. Pada masa ini remaja akan sangat
memperhatikan penampilan, nah apabila ia mengidolakan seseorang otomatis ia
akan menganggap idolanya itu yang paling keren dan paling benar maka dari sini dia
akan lebih cenderung untuk menirukan gaya dari idolanya.
3.
Perkembangan sosial remaja pada
tahap remaja awal biasanya terjadi kesulitan dalam penempatan diri. Yang dimaksukan
disini ialah adanya kebingungan terhadap peran sosial yang akan dihaapinya,
semua hal menjadi serba salah dan menimbulkan banyak pertanyaan. Pada tahap
remaja akhir biasanya hal-hal menjadi lebih mudah karena faktor kebiasaan. Pada
tahap ini hubungan remaja dengan orang tua, teman sebaya dan masyarakat akan
semakin membaik. Yang jelas pada tahap ini penempatan diri remaja sudah semakin
baik.
4.
Jenis ietitas iri remaja:
a)
Diffused Identity. Menurut Marcia
dalam Nielsen (1997:146), remaja tipe ini belum bisa memilih tujuan hidup dan
panggilan idiologi. Tipe ini cenderung tidak memiliki rasa ingin tahu,
melainkan hanya ingin mengikuti arus sosial dan tidak sadar akan ketidak
nyamanannya.
b)
Moratorium. Tipe ini hampir serupa
diffused idetity, tipe ini masih belum tahu siapa jati dirinya namun memiliki
rasa ingin tahu yang besar dan berusaha untuk menemukan identitasnya. Remaja dengan
tipe ini mengalami stress yang besar dan selalu gelisah akibat tidak adanya identitas
atau jati dirinya. Hal ini berujung pada pengekspresian emosi yang besar,
kebingungan, dan adanya perasaan ingin bebas agar lebih leluasa mencari jati dirinya.
c)
Foreclose Identity. Remaja tipe ini
telah mengetahui tujuan hidupnya dan pandangan hidup dengan jelas, tapi dengan
bimbingan atau tentuan dari orang yang berpengaruh dalam hidupnya seperti orang
tua. Namun remaja tipe ini cenderung menganggap jati diri mereka sebagai suatu
keharusan yang wajib diambil tanpa memanang kenyamanan diri sendiri.
d)
Achivement Identity. Remaja tipe ini
telah mengalami kebingungan dan ketidak pastian dalam pencarian jati diri dengan
mencoba berbagai macam idiologi dan identitas selama masa remaja. Hasil kerja
keras tersebut membuat remaja memiliki karakter yang kuat serta cenderung
percaya diri. Tipe ini biasanya berfikir rasional serta menentukan jalan hidupnya
sendiri.
E.
Perkembangan
Sexual
1.
Hormon yang berperan dalam
perkembangan sexual remaja yaitu anrdogen dan estrogen. Anrdogen adalah hormon
laki-laki dan estrogen adalah hormon perempuan. Testosteron adalah jenis dari
anrdogen yang berperan penting pada sejumlah perubahan fisik pada anak laki-laki,
perkembangan alat kelamin luar, bertambahnya tinggi badan, dan perubahan suara.
Sedankan Estraiol merupakan jenis estrogen yang apabila kadarnya meningkat maka
akan menyebabkan perkembangan payudara, rahim dan perubahan tulang pada
kerangka tubuh.
2.
Sigmund Freud memang dikenal degan anggapannya
bahwa seks merupakan kebutuhan dasar dari manusia. Dia beranggapan bahwa memang
seks adalah hal yang tidak salah untuk dipenuhi karena memang salah satu
kebutuhan biologis yang utama, Freud beranggapan bahwa indiviu harus berhasil
melewati pengalaman dalam pengembangan pengalaman psikoseksual. Namun hal ini
yang menyebabkan dia mendapat banyak kritikan dari tokoh-tokoh psikoanalisis yang
lain.
3.
Cara mencegah sexual bebas remaja:
a)
Adanya kasih sayang serta perhatian dari
orang tua kepada anak serta pengawasan yang tidak berkesan mengekang.
b)
Orang tua harus senantiasa mengawasi
media massa dan komunikasi.
c)
Hal yang lumayan bagus untuk pencegahan
adalah dengan ikut kegiatan ekstrakulikuler seperti organisasi keolahragaan dan
semacamnya.
d)
Perlu pembinaan kesehatan reproduksi
bahkan penyakit akibat seks bebas serta resiko-resiko yang akan dihadapi saat
melakukan hal tersebut.
e)
Perlunya penekanan pada nilai-nilai
moral, norma, serta agama sejak sedini mungkin.
Referensi:
Elishabet,
Hurlock,
Santrock,
John. W, 2003. Adolescence. Erlangga: Jakarta
http//www.psikologizone.com/fase-fase-perkembangan
manusia
Psikologi Perkembangan Dewasa dan Lansia
Bahaya
Gangguan Kesehatan pada Fisik dan Kebugaran Perkembangan Dewasa
Puncak kemampuan fisik
dicapai pada usia dibawah 30 tahun, yaitu seringkali antara usia 19 sampai 26
tahun. Kita tidak hanya mencapai kemampuan fisik kita pada rentang umur ini
namun dalam masa ini kita juga dalam kondisi yang paling sehat dan prima. Hanya
sedikit orang dewasa yang memilki masalah kesehatan kronis, dan mereka
mengalami gangguan kesehatan yang lebih sedikit dibandingkan pada saat mereka
anak-anak.
Karena rata-rata dari mereka
mengetahui bagaimana mencegah penyakit dan meningkatkan kesehatan. Meski mereka tahu apa yang harus dilakukan untuk
mencegah penyakit dan meningkatkan kesehatan,
mereka tidak menjalankannya degan baik. Selain dari itu, terdapat bahaya yang tersembunyi dalam puncak kemampuan dan
kesehatan pada masa dewasa. Pada saat
kaum dewasa telah dapat menggunakan sumber daya fisiknya untuk banyak kesenangan
ataupunpekerjaan, ditambah kenyataan bahwa seringkali mereka pulih dengan mudah
dari stress fisik dan cedera, menjadikan mereka memaksa tubuh terlalu jauh,
misalkan begadang.
Akibat
negatif dari penyalahgunaan tubuh seseorang mungkin tidak terlihat pada
permulaan tetapinantinya mungkin muncul pada dewasa lebih lanjut atau pada
pertengahan masa dewasa,sekitar umur 40 tahun.Pada masa dewasa kita tidak hanya
mencapai puncak kemampuan fisik, tetapikemampuan fisik kita juga mulai menurun.
Kekuatan dan kesehatan otot mulai menunjukkanpenurunan sekitar umur 30-an. Pada
masa ini beberapa individu berhenti berpikir tentangbagaimana gaya hidup
pribadi akan mempengaruhi kesehatan hidup mereka selanjutnya padakehidupan
dewasa.
Dalam
studi longitudinal, kesehatan fisik di usia 30 tahun dapatmemprediksikan
kepuasan hidup pada usia 70 tahun yang mana lebih banyak terjadi padalaki-laki
daripada perempuan. Pada
masa dewasa awal, pondasi fungsi fisik untuk rentang kehidupan selanjutnya
telah dibentuk. Walaupun ada bagian dari kesehatan yang dipengaruhi oleh gen,
faktor perilaku memberikan konstribusi besar kepada kesehatan serta
kesejahteraan pada saat ini maupun saat mendatang. Seperti apa yang dimakan
oleh individu, apakah dia mendapatkan cukup istirahat, seberapa aktif mereka
secara fisik, apakah mereka merokok, apakah mereka mengonsumsi minuman keras
serta obat-obatan terlarang.
Penurunan kemampuan
fisik adalah suatu keluhan yang umum diantara mereka yangmemasuki usia 30-an.
Sistem indera individu menunjukkan sedikit perubahan, tetapi lensamata
kehilangan elastisitasnya dan menjadi kurang mampu mengubah bentuk dan fokus
padabenda-benda yang berjarak dekat. Kemampuan pendengaran mencapai puncak pada
masaremaja dan tetap konstan pada permulaan dewasa awal, tetapi mulai mengalami
penurunanpada akhir masa dewasa awal. Pada pertengahan sampai menjelang akhir
20-an, jaringanlemak tubuh bertambah. Kondisi kesehatan dewasa muda dapat
ditingkatkan denganmengurangi gaya hidup
yang merusak kesehatan.
Menurut Hurlock, puncak efisiensi
fisik biasanya dicapai pada usia pertengahan duapuluhan, setelah itu terjadi
penurunan lambat laun hingga awal usia empat puluhan. Olehkarena itu, pada masa
dewasa muda lebih mampu menghadapi dan mengatasi masalah secarafisik sehingga
penyesuaian fisik berjalan dengan baik.
Pada masa ini individu sudah menyadari
adanya kekurangan fisik pada dirinya namun juga menyadari bahwa ia tidak dapat menghapus
kekurangannya tapi masih mampu untuk
memperbaiki penampilan, kondisi kaum kesehatan
muda dapat ditingkatkan dengan mengurangi gaya hidup yang merusak kesehatan, seperti
makan terlalu banyak, dan dengan menerapkan gaya hidup sehat yang
mencakupnutrisi yang baik dan olahraga. Untuk itu pada masa-masa ini seringkali
dari merekamemperbanyak olahraga bahakan melakukan diet yang super ketat. Minat
akan penampilan ini akan berkurang
menjelang usia tiga puluhan karena dirasa semakin kuatnya ketegangandalam
pekerjaan dan rumah tangga.
Pengaruh
Perilaku Terhadap Kesehatan Fase Dewasa Awal
Kesehatan yang baik bukan masalah
nasib baik. Orang-orang dapat meraih kesehatan dengan melakukan beberapa
aktivitas dan menahan diri dari perilaku negatif yang hanya akan memberikan
kenikmatan sesaat namun memberikan dampak negetif pada kesehatan serta fisik.
Misalnya saja banyak gangguan musculoskeletal berhubungan dengan pekerjaan
dan dapat dicegah.
Cedera tulang belakang biasanya
diakibatkan oleh pengerahan tenaga yang berlebihan untuk mengangkat, mendorong,
menarik, atau membawa objek. Cedera gerakan berulang (repetitiv motion) seperti
carpal tunnel syndrome, dapat dikontrol dengan tindakan seperti
penempatan keyboard komputer yang tepat dan postur tubuh yang baik saat
mengetik (Bernard, 1997; National Research Council, 1998, 2001). Hubungan
antara perilaku dan kesehatan mengilustrasikan kesalingterhubungan antara aspek
perkembangan fisik, kognitif, dan emosional. Apa yang diketahui oleh
orang-orang tentang kesehatan memengaruhi tindakan mereka dan tindakan mereka
memengaruhi perasaan mereka.
Akan tetapi, pengetahuan tentang
kebiasaan yang sehat saja tidak cukup. Lingkungan kepribadian, emosi, dan
sosial sering kali mengganggu apa yang seharusnya dilakukan oleh seseorang dan
mengarahkan mereka kepada perilaku yang tidak sehat. Berikut beberapa contoh
bahaya kesehatan fisik serta hal-hal yang perlu diperhatikan pada masa dewasa
awal:
Nutrisi
dan Kolesterol. Apa yang kita makan mempengaruhi
bagaimana penampilan, perasaan, dan kerentanan orang-orang terhadap penyakit.
Kebiasaan makan berperan penting dalam berbagai macam penyakit seperti
kolesterol berlebihan yang dapat menyebabkan penyakit jantung. Orang-orang yang
mengonsumsi buah-buahan dan sayur terutama yang mengandung banyak carotenoid
bisa menurunkan peluang terjangkit penyakit jantung danstroke.
Konsumsi lemak meningkatkan resiko
kardiovaskular, terutama level dari kolesterol (Brunnet Iet al., 1997). Dalam
studi 25 tahun terhadap ebih dari 12.000 pria dari 5 negara. Level kolesterol
secara langsung berkaitan dengan resiko kematian akibat penyakit jantung
koroner (Verschuren et al., 1995). Mengontrol kolesterol melalui diet dan medis
dapat secara signifikan menurunkan resiko tersebut.
Obesitas.
Obesitas
pada orang dewasa biasanya diukur dengan body mass index, jumlah kilogram berat
per meter persegi tinggi. Seorang dewasa dengan MBI 25 atau lebih dianggap
kelebihan berat badan, dan seseorang dengan MBI 30 atau lebih dianggap masuk
kategori obes. Kriteria lain untuk obesitas adalah persentase lemak tubuh; pria
dengan lemak tubuh lebih dari 25% dan wanita dengan lemak tubuh lebih dari 30%
bisa dianggap obes (NCBI; 2002).
Kecenderungan terhadap obesitas bisa
jadi diwariskan, dan kecenderungan genetik ini mungkin saja berinteraksi dengan
faktor lingkungan dan perilaku. Para periset telah mengidentifikasikan mutasi
genetik pada tikus yang mungki mengacaukan pusat kontrol nafsu makan di otak
dengan mencegah produksi protein leptin, yang memberitahu otak saat
tubuh telah cukup makan. Pada diri manusia, berlebih-lebihan dalam makan
mungkin diakibatkan oleh kegagalan otak untuk merespon sinyal protein ini.
Akhirnya riset ini mungkin dapat mengarah kepada identifikasi dan penanganan
orang-orang yang cenderung kepada obesitas.
Dalam masyarakat yang mengalami
kelangsinga, kegemukan dapat mengarah pada masalah emosional. Kondisi tersebut
juga membawa resiko tekanan darah tinggi, serangan jantung, stroke, diabetes,
batu empedu dan berbagai macam kanker serta penurunan kualitas hidup.
Orang-orang yang menderita kegemukan memiliki 30-50% lebih banyak masalah medis
ketimbang perokok atau peminum (Strum, 2002). Karena kelebihan berat badan
menjadi semakin menyebar seiring dengan umur, pencegahan kegemukan pada masa
muda melalui makanan sehat dan aktivitas fisik regular merupakan pendekatan
yang paling baik (Wickelgren, 1998).
Aktifitas
Fisik. Orang dewasa yang aktif secara fisik mendapatkan
banyak keuntungan. Disamping membantu mempertahankan berat badan yang
diinginkan, aktifitas fisik membangun otot dalam hal ini menguatkan jantung dan
paru-paru dan menurunka tekanan darah. Selain itu dapat membantu melindungi
dari penyakit jantung, stroke, diabetes, kanker, dan osteoporosis serta
meredakan kekhawatiran dan depresi yang dapat memanjangkan umur. Apabilaorang
dewasa terlibat dalam 30 menit aktivitas fisik moderat setiap hari,
diperkirakan 250.000 kematian per tahun dapat dihindari.
Merokok.
Merokok adalah penyebab kematian utama di AS (AHA, 1995). Kebiasaan tersebut
membunuh sekitar 400.000 orang setiap tahunnya dan melumpuhkan jutaan yang
lain. Ketika korban merokok pasif ditambahkan, daftar tersebut dapat bertambah
hingga 450.000 (Bartecchi, Mac Kensie, & Schrier; 1995).
Diseluruh dunia, sepertiga dari
orang dewasa merokok. Dan hubungan antara merokok dengan kanker paru-paru telah
terbukti. Merokok dan keterbukaan terhadap lingkungan rokok diperkirakan
bertanggung jawab terhadap 90% kanker paru-paru *di AS (Wingo; 1999). Merokok
juga berkaitan dengan kanker perut, liver, pangkal tenggorokan, mulut, eshopagus,
kandung kemih, ginjal, pankreas dan cervix. Berkaitan pula dengan masalah perut
seperti bisul, hingga masalah pernapasan seperti bronkitis dan emphysema,
dan osteoporosis serta penyakit jantung.
Berhenti untuk mengonsumsi rokok
adalah hal yang sangat bagus. Permen karet nikotin, keping nikotin, semprotan
dan inhaler hidung nikotin, terutama ketika dikombinasikan dengan
konseling akan dapat membantu pecandu
untuk berhenti secara gradual dan aman.
Alkohol.
Biasanya orang dewasa yang duduk di bangku Universitas adalah saat puncak untuk
mengonsumsi minuman beralkohol. Walaupun kekerapan meminum minuman keras
merupakan hal yang biasa pada usia ini, mahasiswa cenderung meminum lebih
banyak dan skala terus-menerus dibandingkan teman sebaya yang tidak kuliah(
hasil penelitian di AS).
Pengonsumsian alkohol diasosiasikan
dengan resiko khas masa dewasa awal yang belum lepas dari bayangan masa remaja
yaitu kecelakaan lalu lintas, kriminalis, dan inveksi HIV(Light;1999). Alkoholisme
adalah penyakit kronis yang melibatkan ketergantungan patalogis terhadap
alkohol, menyebabkan gangguan terhadap kenormalan dan pemenuhan kewajiban. Penanganan
terhadap alkoholisme tergantung pada tingkat keparahan kondisinya. Penanganan
saat ini mencakup detoksifikasi, perumahsakitan, medikasi, psikoterapi
individual dan kelompok, keterlibatan dalam keluarga, dan penyerahan diri ke
organisasi yang memang menangani hal ini.
Obat
terlarang. Menurut survei
penggunaan obat terlarang itu memuncak pada usia sekitar 18 hingga 20 tahun dengan
sekitar 20 persen dari kelompok usia ini menggunakannya setiap bulan.
Obat-obatan yang populer dipakai oleh anak remaja serta dewasa awal adalah mariyuana.
Penggunaan mariyuana dalam jangka
waktu yang panjang diasosiasikan dengan kehilangan ingatan dan perhatian yang
signifikan (Solowij;2002). Pemakaian kokain berat dan kronis juga dapat merubah
fungsi kognitif (Bolla, Cadet, & London; 1998). Dan dari sekian banyak
pecandu obat-obatan terlarang saat masih muda lalu terus memakainya, kesemuanya
mengalami gangguan kesehatan tanpa sempat melalui proses rehabilitasi.
Hal-hal yang secara tidak langsung memengaruhi kesehatan fisik dan
kebugaran:
Status
sosioekonomi dan ras/etnisitas.
Orang yang pendapatannya lebih tinggi biasanya akan mendapatkan jaminan
kesehatan yan baik dengan kekayaannya serta mendapatkan kualitas kesehatannya
bisa terjaga dengan baik dibandingkan dengan orang-orang yang tingkat
pendapatannya rendah.
Pendidikan juga merupakan sesuatu
yang penting karena semakin rendah pendidikan seseorang maka semakin besar juga
kemungkinan mereka untuk memperoleh penyakit-penyakit yang kronis. Hal ini
karena pendidikan yang layak juga dapat diibaratkan dengan pekerjaan yang
layak. Sehingga tentunya tingkat penyakit kronis akan dengan mudah mendatangi
orang berpendidikan rendah.
Hal ini tidak berarti pemasukan dan
pendidikan merupakan penyebab kesehatan yang baik. Akan tetapi kondisi tersebut
berkaitan dengan faktor lingkungan dan gaya hidup berkecenderungan menjadi
penyebab. Kemiskinan diasosiasikan dengan nutrisi buruk, perumahan di bawah
standar bahkan kumuh, keterbukaan terhadap polusi dan perilaku kekerasan dan
akses pelayanan kesehatan yang terbatas.
Perbedaan etnis dalam kesehatan
tidak seluruhnya diatributkan kepada faktor sosioekonomi. Misalnya, meskipun Asro-Amerika
lebih sedikit merokok ditimbang dengan kulit putih namun mereka memetabolisme
lebih banyak nikotin dalam darah mereka sehingga kecenderungan untuk terkena
penyakit kronis juga semakin besar. Penyebabnya adalah genetik, biologis, atau
behavioral.
Pengaruh
Perilaku Terhadap Kesehatan Fase Dewasa Madya
Perhatian terhadap kesehatan.
Hipertensi;
yaitu tekanan darah yang amat tinggi yang semakin manjadi perhatian di
usia pertengahan. Merupakan kondisi kronis umum di kalangan pria berusia 45
sampai 64 tahun dan peringkat kedua yang paling umum di kalangan wanita pada
usia tersebut. Hipertensi dapat mengarah kepada serangan jantung atau stroke,
atau kerusakan otak pada usia senja. (Launer, Masaki, Petrovitch, Foley, &
Havlik, 1995)
Pengaruh; status sosioekonomis
Orang dengan
SSE yang lebih rendah memiliki harapan hidup yang lebih rendah, memiliki lebih
banyak keterbatasan aktivitas dikarenakan penyakit kronis, kesejahteraan yang
lebih rendah, dan memiliki akses yang lebih terbatas kepada perawatan kesehatan
ketimbang orang dengan SSE yang lebih tinggi (Spiro, 2002).
Pengaruh Ras
/ Etnisitas
Sebagian
pengamat megaitkan jurang kesehatan antara orang kulit hitam dan putih, pada
satu sisi, disebabkan oleh stress dan frustrasi akibat prasangka buruk dan diskriminasi
(Chissell, 1989, dkk).
Kesehatan
wanita setelah menopause
·
Penyakit
jantung. Untuk setiap sepuluh tahun setelah menopause, resiko penyakit jantung
meningkat tiga kali lipat (Barrett-Connor, et al., 2002). Faktor genetik bisa
saja menentukan puncak massa tulang. Namun gaya hidup yang baik dapat membuat
perbedaan yang signifikan khususnya jika dilakukan sejak dini.
·
Pelemahan
tulang dan osteoporosis. Yaitu kondisi di mana tulang menjadi tipis dan rapuh
sebagai akibat penipisan kalsium yang berlangsung cepat.
·
Kanker
payudara dan mamografi. Satu dari delapan wanita amerika dan satu dari sembilan
wanita inggris menderita kanker payudara pada satu masa dalam hidup mereka
(ACS, 2001; Pearson, 2002).
·
Hysterectomy.
Ini adalah pengangkatan uterus melalui operasi yang umumnya dilakukan untuk
mengangkat tumor lunak atau karena pendarahan peranakan abnormal atau
endometriosis.
·
Terapi
penggantian hormon. Pengobatan dengan esterogen buatan, terkadang diberikan
bersama progesterone, untuk mencegah simpom yang disebabkan menurunnya level
estrogen setelah monopause.
Referensi: Hurlock and human development
Evaluasi Kinerja Karyawan dalam Psikologi Industri dan Organisasi
PSIKOLOGI INDUSTRI DAN ORGANISASI
EVALUATING
EMPLOYEE PERFORMANCE
KELOMPOK 3
Hasnawati Lahamuddin
Riskyanti
Fahjrul
Aan Hilmawan
Cici Namirah Basri
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS NEGERI
MAKASSAR
2012
2012
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke
hadirat Allah SWT karena atas berkat, rahmat, karunia dan izin-Nya-lah sehingga
kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini yang berjudul “Evaluating Employee Performance”. Tak lupa pula kami kirimkan salam
dan shalawat kepada Nabi Besar junjungan kita Muhammad SAW yang membawa kita
dari alam kegelapan ke alam terang-benderang. Makalah Psikologi Industri dan Organisasi ini kami susun secara praktis, objektif,
ilmiah serta disesuaikan dengan perkembangan mahasiswa Indonesia saat ini,
sehingga rekan-rekan mahasiswa dapat dengan mudah memahami, mengkaji dan
menganalisis keseluruhan isi makalah ini.
Terima kasih kepada Bapak Dosen mata kuliah Psikologi Industri dan Organisasi atas ilmu dan bimbingan yang beliau
berikan untuk kelancaran penyusunan makalah ini. Terima kasih juga kepada
rekan-rekan mahasiswa yang ikut membantu dalam penyelesaian tugas ini. Kami menyadari bahwa makalah ini tidaklah dapat dikatakan
sempurna, kami masih membutuhkan kritikan dan saran yang sifatnya membangun
agar makalah ini bisa menjadi bahan bacaan yang
berguna, berbobot, menarik dan bermanfaat sesuai dengan tujuan disusunnya
makalah ini sebagai bahan belajar Psikologi Industri dan Organisasi. Amin.
Makassar, 15 Desember 2011
Penyusun,
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Kinerja SDM merupakan istilah yang berasal dari kata Job Performance atau Actual Performance (prestasi kerja
atau prestasi sesungguhnya yang dicapai seseorang). Bambang Kusriyanto (1991 :
3) mengemukakan bahwa kinerja karyawan adalah “Perbandingan hasil yang dicapai
dengan peran serta tenaga kerja persatuan waktu (lazimnya per jam)’’. Evaluasi
terhadap kinerja atau penilaian prestasi karyawan dilakukan untuk memperbaiki
atau meningkatkan kinerja organisasi melalui peningkatan kinerja dari SDM
organisasi yang sebenarnya bertujuan untuk lebih memajukan lagi organisasi itu
sendiri.
Dalam
suatu industri maupun organisasi ada banyak individu didalamnya dan
individu-individu tersebut memiliki latar belakang, kemampuan, dan kepribadian
yang berbeda-beda pula, sehingga dalam melaksanakan pekerjaan untuk mencapai
tujuan yang telah ditentukan bersama kemungkinan akan menemukan
kesulitan-kesulitan yang akan dihadapi. Maka kita perlu melakukan evaluasi
serta membutuhkan prosedur yang tepat untuk melakukan evaluasi dan setelah
evaluasi kita akan melakukan strategi yang dapat dilakukan untuk melakukan
perbaikan pada mutu organisasi.
1.2
Rumusan Masalah
1.
Apa prinsip dasar serta tujuan dari penilaian kinerja?
2.
Apa yang
menjadi sasaran dalam menilai kinerja serta faktor-faktor apa saja yang memengaruhi
pencapaian kinerja?
3.
Bagaimana
panduan evaluasi kinerja karyawan serta apa saja masalah dan
kesulitan dalam penilaian performa kerja?
4.
Bagaimana
metode peningkatan kinerja?
1.3
Tujuan
1.
Mengetahui prinsip dasar dan tujuan dari penilaian
kerja
2.
Mengetahui sasaran dalam menilai kinerja serta mengetahui
faktor yang memengaruhi pencapaian kinerja
3.
Mengetahui panduan evaluasi kinerja karyawan serta
mengetahui masalah dan kesulitan dalam penilaian performa kerja
4.
Mengetahui
metode peningkatan kinerja
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Prinsip Dasar dan Tujuan dari Penilaian Kerja
Prinsip
Dasar
Secara singkat dapat
disimpulkan bahwa prinsip dasar evaluasi kinerja sebagai berikut:
a.
Fokusnya adalah membina kekuatan untuk menyelesaikan setiap persoalan
yang muncul dalam pelaksanaan evaluasi kinerja. Jadi bukan semata-mata
menyelesaikan persoalan itu sendiri, namun pimpinan dan karyawan mampu
menyelesaikan persoalannya dengan baik setiap saat, setiap ada persoalan baru.
Jadi yang penting adalah kemampuannya.
b.
Selalu didasarkan atas suatu pertemuan pendapat, misalnya dari hasil
diskusi antara karyawan dengan penyelia langsung, suatu diskusi yang kontruktif
untuk mencari jalan yang terbaik dalam meningkatkan mutu dan baku yang tinggi.
c.
Suatu proses manajemen yang alami, jangan merasa dan menimbulkan kesan
terpaksa, namun dimasukkan secara sadar kedalam corporate planing,
dilakukan secara periodik, terarah dan terprogram, bukan kegiatan yang hanya
setahun sekali atau kegiatan yang dilakukan jika manajer ingat saja.
Tujuan dari Penilaian Kerja
Tujuan dari evaluasi
kinerja adalah untuk memperbaiki atau meningkatkan kinerja organisasi melalui
peningkatan kinerja dari SDM organisasi. Agus Sunyoto (1999:1) membagi tujuan
evaluasi kerja menjadi:
a.
Meningkatkan saling pengertian antara karyawan tentang persyaratan
kinerja.
b.
Mencatat dan mengakui hasil kerja seorang karyawan, sehingga mereka
termotivasi untuk berbuat yang lebih baik atau sekurang-kurangnnya berprestasi
sama dengan prestasi yang terdahulu.
c.
Memberikan peluang kepada karyawan untuk mendiskusikan keinginan dan
aspirasinya dan meningatkan kepedulian terhadap karier atau terhadap pekerjaan
yang diembannya sekarang.
d.
Mendefinisikan atau merumuskan kembali sasaran masa depan, sehingga
karyawan termotivasi untuk berprestasi sesuai dengan potensinya.
e.
Memeriksa rencana pelaksanaan dengan pengembangan yang sesuai dengan
kebutuhan pelatihan, khusus rencana diklat, dan kemudian menyetujui rencana itu
jika tidak ada hal-hal yang perlu diubah.
Berikut
ini dipaparkan beberapa kegunaan dari penilaian prestasi kerja (kinerja)
karyawan:
a.
Sebagai dasar dalam pengambilan keputusan yang dugunakan untuk prestasi,
pemberhentian dan besarnya balas jasa.
b.
Untuk mengukur sejauh mana seorang karyawan dapat menyelesaikan
pekerjaannya.
c.
Sebagai dasar untuk mengevaluasi efektivitas seluruh kegiatan dalam
perusahaan.
d.
Sebagai dasar untuk mengevaluasi program latihan dan keefektifan jadwal
kerja, metode kerja, struktur lorganisasi, gaya pengawasan, kondisi kerja dan
pengawasan.
e.
Sebagai indiktor untuk menentukan kebutuhan akan latihan bagi karyawan
yang berada didalam organisasi.
f.
Sebagai alat untuk meningkatkan motivasi kerja karyawan sehingga dicapai performance
yang baik.
g.
Sebagai alat untuk dapat melihat kekurangan atau kelemahan dan
meningkatkan kemampuan karyawan selanjutnya.
h.
Sebagai kriteria menentukan, seleksi dan penempatan karyawan.
i.
Sebagai alat untuk memperbaiki atau mengembangkan kecakapan karyawan.
j.
Sebagai dasar untuk memperbaiki atau mengembangkan uraian tugas (job
description).
2.2 Sasaran Penilaian Dalam Evaluasi
Kinerja serta Faktor-faktor yang
Memengaruhi Pencapaian Kinerja
Sasaran
Dalam Menilai Kinerja
Sasaran-sasaran
dan evaluasi kinerja karyawan yang dikemukakan oleh Agus Sunyoto (1999:1)
sebagai berikut:
a.
Membuat analisis kinerja dari waktu yang lalu secara berkesinambungan dan
periodik, baik kinerja karyawan maupun kinerja organisasi.
b.
Membuat evaluasi kebutuhan pelatihan dari seluruh karyawan melalui audit
keterampilan dan pengetahuan sehingga dapat mengembangkan kemampuan dirinya.
Atas dasar evaluasi kebutuhan pelatihan itu dapat menyelenggarakan program
pelatihan dengan tepat.
c.
Menentukan sasaran dari kinerja yang akan datang dan memberikan tanggung
jawab perorangan dan kelompok sehingga untuk periode selanjutnya jelas apa yang
harus diperbuat oleh karyawan, mutu dan baku yang harus dicapai, sarana dan
prasarana yang diperlukan untuk meningkatkan kinerja karyawan.
d.
Menemukan potensi karyawan yang berhak memperoleh promosi, dan kalau
mendasarkan hasil diskusi antara karyawan dengan pimpinannya itu untuk menyusun
suatu proposal mengenai sistem bijak (merit system) dan sistem promosi lainnya,
seperti imbalan (yaitu reward system recommendation).
Evaluasi kinerja merupakan sarana
untuk memperbaiki mereka yang tidak melakukan tugasnya dengan baik didalam
organisasi. Banyak organisasi berusaha mencapai sasaran suatu kedudukan yang
terbaik dan terpercaya dalam bidangnya. Untuk itu sangat tergantung dari para
pelaksananya, yaitu para karyawannya agar mereka mencapai sasaran yang telah
ditetapkan oleh organisasi dalam corporate planning-nya.
Untuk itu pula,
perhatian hendaknya ditujukan kepada kinerja, suatu konsepsi atau wawasan
bagaimana kita bekerja agar mencapai yang terbaik. Hal ini berarti bahwa kita
harus dapat memimpin orang-orang dalam melaksanakan kegiatan dan membina mereka
sama pentingnya dan sama berharganya dengan kegiatan organisasi.
Jadi fokusnya adalah
kepada kegiatan bagaimana usaha untuk selalu memperbaiki dan meningkatkan
kinerja dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari. Untuk mencapai itu perlu
diubah cara bekerja sama dan bagaimana melihat atau meninjau kinerja itu
sendiri. Dengan demikian, pimpinan dan karyawan yang bertanggung jawab langsung
dalam pelaksanaan evaluasi kinerja, harus pula dievaluasi secara periodik agar
efektif.
Faktor-faktor yang Memengaruhi Pencapaian
Kinerja
Faktor yang
memengaruhi pencapaian kinerja adalah faktor kemampuan (ability) dan faktor
motivasi (motivation). Hal ini sesuai dengan pendapat Keith davis dalam A.A.
Anwar Prabu Mangkunegara (2000: 67) yang merumuskan bahwa:
Human Performance = Ability x Motivation
Motivation = Attitude x situation
Ability = Knowladge x Skill
Secara psikologis,
kemampuan terdiri dari kemampuan potensi (IQ) dan kemampuan reality (knowladge
+ skill). Artinya, pimpinan dan karyawan yang memiliki IQ diatas rata-rata (IQ
110-120) apalagi IQ superior, very superior, gifted dan genius dengan
pendidikan yang memadai untuk jabatannya dan terampil dalam mengerjakan
pekerjaan sehari-hari, maka akan lebih mudah mencapai kinerja maksimal.
Sedangkan dari segi
motivasi, motivasi diartikan suatu sikap (attitude) pimpinan dan karyawan
terhadap situasi kerja (situation) di lingkungan organisasinya. Mereka yang
bersifat positif terhadap situasi kerjanya akan menunjukkan motivasi kerja
tinggi dan sebaliknya mereka yang bersifat negatif terhadap situasi kerjanya
akan menunjukkan motivasi kerja yang rendah. Situasi kerja yang dimaksud
mencakup antara lain hubungan kerja, fasilitas kerja, iklim kerja, kebijakan
pimpinan, pola kepemimpinan kerja dan kondisi kerja.
Menurut Hennry
Simamora (1995: 500), kinerja (performance) dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu:
a. Faktor individual yang terdiri
dari:
·
Kemampuan dan keahlian
·
Latar belakang
·
Demografi
b. Faktor psikologis yang terdiri
dari:
·
Persepsi
·
Attitude
·
Personality
·
Pembelajaran
·
Motivasi
c. Faktor organisasi yang terdiri
dari:
·
Sumber daya
·
Kepemimpinan
·
Penghargaan
·
Struktur
·
Job design
Kinerja individu
adalah hasil kerja karyawan baik dari segi kualitas ,aupun kuantitas
berdasarkan standar kerja yang telah ditentukan. Kinerja individu ini akan
tercapai apabila didukung oleh atribut individu, upaya kerja (work effort)
dan dukungan organisasi. Dengan kata lain, kinerja individu adalah:
a. Atribut individu, yang
menentukan kapasitas untuk mengerjakan sesuatu. Atribut individu meliputi
faktor individu (kemampuan dan keahlian, letar belakang serta demografi) dan
faktor psikologis meliputi persepsi, attitude, personality,
pembelajaran dan motivasi.
b. Upaya kerja (workeffort),
yang membentuk keinginan untuk mencapai sesuatu.
c. Dukungan organisas, yang
memberikan kesempatan untuk berbuat sesuatu. Dukungan organisasi meliputi
sumber daya, kepemimpinan, lingkungan kerja, struktur organisasi dan job
design.
Menurut A. Dale
Timple (1992: 31), faktor-faktor kinerja itu terbagi atas 2 bagian yaitu faktor
internal dan faktor eksternal.
a. Faktor Internal (Disposisional)
yaitu faktor yang dihubungkan dengan sifat-sifat seseorang. Misalnya, kinerja
seseorang baik disebabkan karena mempunyai kemampuan tinggi dan seseorang itu
pekerja keras, sedangkan seseorang mempunyai kinerja jelek disebabkan orang
tersebut mempunyai kemampuan rendah dan orang tersebut tidak memiliki
upaya-upaya untuk memperbaiki kemampuannya.
b. Faktor Eksternal yaitu
faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja seseorang yang berasal dari lingkungan.
Seperti perilaku, sikap, dan tindakan-tindakan rekan kerja. Bawahan atau
pimpinan, fasilitas kerja, dan iklim organisasi.
2.3 Panduan Evaluasi Kinerja Karyawan serta Masalah dan Kesulitan Dalam
Penilaian Performa Kerja
Panduan Evaluasi Kinerja Karyawan
Menurut James E. Neal Jr. (2003) panduan evaluasi kinerja karyawan yaitu:
1.
Akurasi
Pemenuhan standar akurasi:
Tidak Memuaskan
|
Di bawah rata-rata
|
Rata-rata
|
Memuaskan
|
Luar biasa
|
Jumlah kesalahan tidak dapat diterima
|
Membuat lebih banyak kesalahan daripada yang
normal
|
Menemukan standar akurasi normal
|
Biasanya akurat dengan seidikit kesalahan
|
Bersifat konsisten dan benar-benar akurat di
setiap saat
|
2.
Prestasi
Menyelesaikan tanggung jawab dan tugas.
Tidak Memuaskan
|
Di bawah rata-rata
|
Rata-rata
|
Memuaskan
|
Luar biasa
|
Gagal menyelesaikan tanggung jawab dan
tugas-tugas.
|
Gagal mencapai standar prestasi yang normal
|
Mencapai persyaratan kerja normal
|
Menunjukkan tingkat prestasi yang tinggi
secara konsisten
|
Menunjukkan kemampuan menyelesaikan tanggung jawab dan tugas yang luar
biasa.
|
3.
Administrasi
Menunjukkan efektivitas administratif
Tidak Memuaskan
|
Di bawah rata-rata
|
Rata-rata
|
Memuaskan
|
Luar biasa
|
Tidak dapat diterima, dalam hal ini
menyelesaikan tugas-tugas administrasi
|
Gagal mencapai standar normal kompetensi
administratif
|
Menunjukka efektivitas yang normal dalam
menunjukkan tugas-tugas administratif.
|
Sangat cakap dalam pertanggung jawaban
administratif.
|
Menunjukkan kerja yang istimewa dalam
mencapai tingkat evektifitas administrasi yang sangat tinngi.
|
4.
Analitis
Analisa secara efektif
Tidak Memuaskan
|
Di bawah rata-rata
|
Rata-rata
|
Memuaskan
|
Luar biasa
|
Tidak dapat diterima, dalam hal ini
menganalisa elemen situasi yang kritis
|
Gagal mencapai standar rata-rata dalam
menganalisa permasalahan dan situasi
|
Menunjukkan kecakapan rata-rata ketika
dihadapkan dengan situasi-situasi analitis
|
Menggunakan logika yang masuk akal dan
beralasan dalam menganalisa masalah-masalah dan situasi sulit
|
Menunjukkan keahlian luar biasa secara penuh
dalam menganalisa situasi dan mengambil langkah yang sesuai.
|
5.
Komunikasi
Berkomunikasi dengan orang lain
Tidak Memuaskan
|
Di bawah rata-rata
|
Rata-rata
|
Memuaskan
|
Luar biasa
|
Tidak dapat diterima, dalam hal
berkomunikasi dengan orang lain.
|
Menunjukkan kemampuan berkomunikasi yang
kurang
|
Berkomunikasi dengan kemampuan rata-rata
|
Berkomunikasi dengan sangat efektif dengna
pihak lain
|
Melampui komunikasi efektif yang tinggi
|
6.
Kompetensi
Menunjukkan kemampuan dan kualitas
Tidak Memuaskan
|
Di bawah rata-rata
|
Rata-rata
|
Memuaskan
|
Luar biasa
|
Gagal menunjukkan kemampuan dan kualitas
yang dapat diterima
|
Menunjukkan tingkat kompetensi yang lemah
|
Rata-rata dalam menunjukkan kemampuan dan kualitas
|
Menunjukkan kompetensi yang kuat
|
Menunjukkan kemampuan dan kualitas yang
dapat diterima dalam menyelesaikan tanggung jawab
|
7.
Kerjasama
Bekerja sama dengan orang lain
Tidak Memuaskan
|
Di bawah rata-rata
|
Rata-rata
|
Memuaskan
|
Luar biasa
|
Tidak dapat diterima, dalam menunjukkan
kerja sama
|
Menunjukkan minimnya kerjasama
|
Rata-rata dalam kerjasama dengan orang lain.
|
Menunjukkan kemampuan kerja sama yang kuat
|
Sangat luar biasa dalam bekerja sama dengan
orang lain disemua tingkat
|
8.
Kreativitas
Menunjukkan daya imaginasi dan daya kreatif.
Tidak Memuaskan
|
Di bawah rata-rata
|
Rata-rata
|
Memuaskan
|
Luar biasa
|
Sangat tidak layak dantidak dapat diterima
dalam menunjukkan kreativitas
|
Kemampuan kreativitas dibawah rata-rata
|
Menunjukkan daya kreatif dan keahlian yang normal
|
Memiliki gagasan konseptual yang baik serta
aplikasi-aplikasi praktis
|
Menunjukkan keahlian yang luar biasa pada imaginasi kreatif dan
aplikasinya.
|
9.
Pengambilan keputusan dan
pemberian solusi
Tidak Memuaskan
|
Di bawah rata-rata
|
Rata-rata
|
Memuaskan
|
Luar biasa
|
Tidak dapat menunjukkan kerja yang dapat
diterima dalam pengambilan keputusan
|
Menunjukkan kemampuan pengambilan
keputusan yang di bawah rata-rata
|
Membuat keputusan yang beralasan dalam sebagian besar situasi
|
Membuat keputusan yang logis dan konsisten
sesuai fakta yang terdokumentasi
|
Sangat kompoten dalam pengambilan keputusan
yang logis yang disertai solusi praktis
|
Dalam hal ini sebenarnya
ada 22 kinerja yang akan di evaluasi dengan format yang sama. Selain 9 yang ada
di atas yaitu pendelegasian, dapat diandalkan, improvisasi, inisiatif, inovasi,
keahlian interpersonal, keputusan, pengetahuan, kepemimpinan, pembelajaran,
manajemen, motivasi dan negosiasi.
Masalah
dan Kesulitan Dalam Penilaian Performa Kerja
1.
Overweighing
dari kejadian baru-baru ini, menguntungkan atau tidak menguntungkan, sementara
kejadian sebelumnya cenderung terlupakan. Pikiran kita dapat hanya
mempertahankan sejumlah detail, sehingga wajar bahwa insiden baru-baru ini
berdiri keluar. Solusinya adalah konsisten dokumentasi,
tanggal dan file untuk penggunaan masa depan. Rating harus berfokus pada peristiwa-peristiwa yang
terisolasi, tapi juga
harus memperhatikan dan mengevaluasi pola perilaku.
2.
Keengganan
untuk membuat peringkat buruk karena takut mereka mungkin harus dibahas panjang
lebar dengan karyawan. Beberapa orang menikmati konfrontasi. Untuk beberapa
manajer, cukup mudah untuk menghindari sesuatu yang negatif selama kinerja
review. Menghindari perangkap ini dengan beberapa perencanaan sebelum penilaian
awal bijaksana. Mencoba untuk masalah negara tanpa menempatkan karyawan dalam
sikap defensif. Fokus pada masalah, bukan orang. Ini terbaik dilakukan
menggunakan komentar yang dimulai dengan 'Saya' daripada 'Anda.' Ingat karyawan harapkan untuk mendengar baik positif dan negatif selama
Tinjauan kinerja.
3.
'Efek halo.'
Karyawan yang umumnya suka dipandang sebagai unggul dalam segala hal. Di sisi
lain, jika kepribadian mereka tidak menyukai, mereka menjadi kekurangan banyak
ciri. Memisahkan masalah kepribadian dari pekerjaan performancecan menjadi
hampir mustahil, terutama di kantor kecil. Semua staf Anda, Anda mungkin
findThomas yang paling disukai, tetapi penampilannya pekerjaan keseluruhan
adalah persoalan, tidak affability nya. Ketika ditanya, sebagian besar karyawan
mengatakan mereka ingin kritik konstruktif, untuk melakukan pekerjaan mereka
lebih baik. Menghilangkan efek halo dengan berjuang untuk objektivitas.
Mengevaluasi hanya kinerja kerja, tidak kepribadian. Ketika Anda menulis catatan
untuk penilaian, memeriksa mereka erat untuk melihat persis apa Anda
benar-benar mengevaluasi; pekerjaan selesai atau orang.
4.
Keengganan
pengawas untuk meluangkan waktu atau membuat upaya untuk menganalisis karyawan
mereka benar-benar. Kesalahan ini bisa menjadi akibat dari tidak ada
dokumentasi, (dengan demikian sedikit atau tidak ada untuk berbicara tentang
selama evaluasi) sekadar kurangnya waktu atau tidak adanya deskripsi pekerjaan
saat ini. Menghindari ini dengan menjaga pekerjaan deskripsi up to date dan
meninjau mereka sebelum evaluasi. Meluangkan waktu untuk memantau semua
karyawan sebagai individu. Jangan meremehkan pentingnya biasa penilaian oleh
mengabaikan mereka sepenuhnya atau tergesa-gesa melalui mereka selama beberapa
saat kendur. Tidak meluangkan waktu untuk mengevaluasi karyawan mengirim pesan
yang jelas bahwa Anda tidak peduli tentang apa yang terjadi di kantor atau
hanya tidak dapat diganggu.
5.
Kecenderungan
untuk menggeneralisasi dari jelas atau sebagai contoh dari perilaku karyawan.
Karyawan perlu spesifik. Jika Anda tidak jelas dan terlalu umum tentang apa
yang Anda harapkan dari seorang karyawan, orang itu akan memiliki waktu sulit
untuk membuat perbaikan yang diperlukan. Menjaga tujuan/harapan Anda sejelas
mungkin. Ingat, pola-pola yang baik atau buruk insiden signifikan, tidak satu
kali. Jika Anda ingin Cindy menjadi lebih sopan kepada pelanggan, menaruh
harapan itu dalam kata-kata selama evaluasi. Memberikan saran nya dan kerangka waktu yang wajar untuk meningkatkan. Kemudian
menonton dan mendokumentasikan apa yang terjadi.
6.
Kurangnya seragam kriteria atau standar kinerja. Jika rating kriteria tidak
konsisten, karyawan mungkin merasa mereka diadakan untuk standar yang berbeda.
Ini dengan mudah dapat menimbulkan masalah rekan kerja kebencian, klaim memihak
atau diskriminasi. Hindari ini dengan memastikan bahwa semua pekerjaan
tugas-tugas secara jelas dijabarkan dalam deskripsi pekerjaan. Karyawan harus
memahami bagaimana mereka menjadi dinilai... seperti geser nomor skala, atau
sistem penilaian yang abjad, dll (lihat catatan tambahan di bawah ini pada
konsistensi) sedapat mungkin, menjaga harapan konstan untuk semua orang.
Sebagai contoh, jika aturan negara semua orang harus menyerahkan permintaan
liburan mereka setidaknya enam minggu di muka, maka harus ada ada pengecualian.
7.
Mencoba untuk
mencapai terlalu banyak dalam terlalu sedikit waktu. Kesalahan ini biasanya
berarti berusaha untuk menjejalkan semua komunikasi utama antara pengawas dan
karyawan tentang gaji, kebutuhan pelatihan dan perencanaan ke satu pertemuan
tahunan. Menghilangkan masalah ini jelas dengan
mendorong dialog terbuka dengan semua karyawan sehingga umpan balik dapat
berlangsung. Selain itu, bekerja di luar waktu yang lebih realistis untuk
menangani isu-isu komunikasi lain. Jika beberapa karyawan memerlukan pelatihan
komputer tambahan, misalnya, ini mungkin akan dibahas pada pertemuan staf
bulanan. Atau, gaji ulasan bisa Ruangan Khusus untuk delapan minggu setelah
Tinjauan kinerja tahunan untuk mengambil ke account perbaikan atau kekurangan
sejak evaluasi.
8.
Kecenderungan
untuk mengembang peringkat. Sebagai aturan umum, pengawas memberikan bawahan
mereka meningkat evaluasi kinerja. Miskin karyawan dinilai sebagai tidak
kompeten, marjinal karyawan sebagai memuaskan, memuaskan karyawan di atas
standar dan baik karyawan sebagai layak untuk memenangkan hadiah Nobel. Masalah
ini dapat diatasi dengan meninjau melewati penilaian, daripada memulai dari
awal setiap waktu. Juga, karyawan harus tidak dievaluasi dalam abstrak, tetapi dalam
hubungan satu sama lain. Ini dapat dilakukan melalui penggunaan komparatif peringkat.
9.
Kebutuhan untuk
menggunakan untuk keuntungan pribadi, seperti mencoba untuk menang yang
subordinat kebaikan atau menjaga karyawan dari berhenti. Ini bisa memanifestasikan
dirinya dalam berbagai cara, tergantung pada orang dan keadaan yang terlibat.
Berikut adalah contoh mungkin satu: Anda merasa John adalah karyawan Anda
paling berdedikasi, tapi Anda sudah mendengar desas-desus ia telah ditawarkan
posisi gaji yang lebih tinggi di tempat lain. Anda hanya dijadwalkan liburan
lama ditunggu dan Anda benar-benar tidak punya waktu atau kemauan untuk
menemukan penggantian. Evaluasi kinerja merindukan tanda sepenuhnya dan berubah
menjadi berbasa-basi ke membujuk John untuk tinggal.
10. Perlu memberikan rekan-rekan atau lainnya informasi yang
akan tidak mempermalukan rating. Dalam contoh ini, rating keliru merasa situasi
adalah refleksi pribadi atas atau pekerjaannya sebagai seorang manajer. Contoh:
'tak satu pun dari karyawan saya tampil di kurang dari 100 persen, atau saya
tidak akan menjaga orang.' Akan apapun luar memandang karyawan Anda sebagai
sempurna? Tidak mungkin. Evaluasi kinerja setiap diatur oleh sifat manusia,
tetapi mereka dapat menjadi alat yang berharga mereka itu dimaksudkan untuk
menjadi, bukan drama tahunan yang dimainkan oleh atasan dan bawahan. Ego
harus mengambil kembali kursi dalam situasi ini.
2.4 Metode Peningkatan Kinerja
Perbandingan Metode
Perbandingan
metode penilaian kinerja melibatkan beberapa bentuk perbandingan kinerja
seorang pekerja dengan kinerja orang lain. Prosedur ini relatif mudah untuk
diimplementasikan dalam organisasi kerja dan termasuk peringkat, perbandingan
berpasangan, dan distribusi paksa. Perbandingan metode:
metode penilaian kinerja yang melibatkan perbandingan kinerja satu pekerja
terhadap para pekerja lainnya.
Peringkat
Metode komparatif peringkat membutuhkan pengawas untuk peringkat bawahan langsung mereka dari yang terbaik sampai terburuk pada dimensi kinerja spesifik, atau untuk memberikan peringkat komparatif keseluruhan terhadap kinerja. Peringkat: metode penilaian kinerja yang melibatkan peringkat disupervisi dari terbaik ke terburuk.
Metode komparatif peringkat membutuhkan pengawas untuk peringkat bawahan langsung mereka dari yang terbaik sampai terburuk pada dimensi kinerja spesifik, atau untuk memberikan peringkat komparatif keseluruhan terhadap kinerja. Peringkat: metode penilaian kinerja yang melibatkan peringkat disupervisi dari terbaik ke terburuk.
Paduan
perbandingan
Metode penilaian kinerja di mana
penilai membandingkan setiap pekerja dengan setiap pekerja lain dalam kelompok.
Paksa
distribusi
Menugaskan pekerja untuk kategori
mapan miskin untuk kinerja yang baik dengan keterbatasan tetap pada berapa
banyak karyawan yang dapat ditugaskan untuk masing-masing kategori.
INDIVIDUAL
METODE
Hal ini lebih umum untuk karyawan yang
harus dievaluasi dengan menggunakan apa yang bisa disebut "metode
individu". Metode individu melibatkan mengevaluasi karyawan sendiri /
dirinya sendiri. Namun, meskipun peringkat yang dibuat secara individual,
penilaian menggunakan metode individu masih dapat membuat perbandingan
Peringkat satu karyawan individu dengan penilaian individu karyawan lainnya.
Grafis
Penilaian Timbangan
Metode penilaian kinerja menggunakan
skala yang telah ditetapkan untuk menilai pekerja pada dimensi pekerjaan yang
penting.
Perilaku
Berlabuh Penilaian Timbangan (BAR)
Penilaian kinerja teknik menggunakan
skala penilaian dengan label yang mencerminkan contoh yang buruk, rata-rata,
dan insiden perilaku yang baik.
Perilaku
Observation Scales (BOS)
Penilaian kinerja metode yang
mengharuskan penilai untuk mengingat seberapa sering seorang pekerja telah
diamati melakukan perilaku kerja kunci.
Checklist
Metode penilaian kinerja menggunakan serangkaian pernyataan tentang kinerja.
Metode penilaian kinerja menggunakan serangkaian pernyataan tentang kinerja.
Narasi
Terbuka laporan tertulis kinerja seorang pekerja yang digunakan dalam penilaian kinerja.
Terbuka laporan tertulis kinerja seorang pekerja yang digunakan dalam penilaian kinerja.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Evaluasi kinerja merupakan sarana
untuk memperbaiki mereka yang tidak melakukan tugasnya dengan baik didalam
organisasi. Banyak organisasi berusaha mencapai sasaran suatu kedudukan yang
terbaik dan terpercaya dalam bidangnya. Untuk itu sangat tergantung dari para
pelaksananya, yaitu para karyawannya agar mereka mencapai sasaran yang telah
ditetapkan oleh organisasi dalam corporate planning-nya.
Kinerja individu adalah hasil kerja
karyawan baik dari segi kualitas ,aupun kuantitas berdasarkan standar kerja yang
telah ditentukan. Kinerja individu ini akan tercapai apabila didukung oleh
atribut individu, upaya kerja (work effort) dan dukungan organisasi.
Motivasi diartikan suatu sikap
(attitude) pimpinan dan karyawan terhadap situasi kerja (situation) di lingkungan
organisasinya. Mereka yang bersifat positif terhadap situasi kerjanya akan
menunjukkan motivasi kerja tinggi dan sebaliknya mereka yang bersifat negatif
terhadap situasi kerjanya akan menunjukkan motivasi kerja yang rendah. Situasi
kerja yang dimaksud mencakup antara lain hubungan kerja, fasilitas kerja, iklim
kerja, kebijakan pimpinan, pola kepemimpinan kerja dan kondisi kerja
SARAN
DAFTAR PUSTAKA
Mangkunegara, Anwar. 2005. Evaluasi Kinerja
SDM. Bandung; PT Refika Aditama
Ringgio R.E. 2003. Industrial /
organizational psychology. USA; Prentice Hall
Langganan:
Postingan (Atom)