Bukan bermaksud Plagiat tapi tulisan yang pantas untuk mendapat apresiasi dan memang sudah ada izin untuk mengutip :) . Karya luar biasa dari kandaku Sabir Al Junaid.
Ini bukan lagi tentang kisah, bukan pula sebuah epik, ataupun galau, bukan juga sebuah melodrama yang dibungkus dalam pernikahan kata demi kata, tapi ini tentang harapan pada kampung yang telah akan kehilangan roh dan sosok pemimpin.
seperti yang diceritakan dalam Ajaran ZARATHUSTRA ( kitab Majusi ) Saat menantikan Ajaran Islam sebagai Rahmat seluruh Alam, begitu juga di kampung kami, menantika sosok yang yang dapat mengayomi dan menjadi figur bagi para penduduk akademik.
"jangan pernah mengatakan kamu tidak mencintainya lagi jika kamu masih tidak dapat melupakannya, maka aku masih mencintai kampungku, tak ingin melihatnya ternoda oleh sikap dan ego kalian. maka aku mengurungkan niatku sementara untuk meninggalkanmu
" Kami menantikan sosok, figur, pemimpin seperti orang penganut Ajaran Majusi yang menantikan agama yang akan membawa mereka pada jalan yang sebenrnya.."
Dan pada akhirnya, kami hanya dapat berbicara, lalu engkau mengejek, dan pada akhirnya, kami hanya dapat menyulut api, lalu engkau murka, dan pada akhirnya kami hanya dapat berbuat, engkau yang menterjemahkan"...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar