PSIKOLOGI INDUSTRI DAN ORGANISASI
EVALUATING
EMPLOYEE PERFORMANCE
KELOMPOK 3
Hasnawati Lahamuddin
Riskyanti
Fahjrul
Aan Hilmawan
Cici Namirah Basri
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS NEGERI
MAKASSAR
2012
2012
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke
hadirat Allah SWT karena atas berkat, rahmat, karunia dan izin-Nya-lah sehingga
kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini yang berjudul “Evaluating Employee Performance”. Tak lupa pula kami kirimkan salam
dan shalawat kepada Nabi Besar junjungan kita Muhammad SAW yang membawa kita
dari alam kegelapan ke alam terang-benderang. Makalah Psikologi Industri dan Organisasi ini kami susun secara praktis, objektif,
ilmiah serta disesuaikan dengan perkembangan mahasiswa Indonesia saat ini,
sehingga rekan-rekan mahasiswa dapat dengan mudah memahami, mengkaji dan
menganalisis keseluruhan isi makalah ini.
Terima kasih kepada Bapak Dosen mata kuliah Psikologi Industri dan Organisasi atas ilmu dan bimbingan yang beliau
berikan untuk kelancaran penyusunan makalah ini. Terima kasih juga kepada
rekan-rekan mahasiswa yang ikut membantu dalam penyelesaian tugas ini. Kami menyadari bahwa makalah ini tidaklah dapat dikatakan
sempurna, kami masih membutuhkan kritikan dan saran yang sifatnya membangun
agar makalah ini bisa menjadi bahan bacaan yang
berguna, berbobot, menarik dan bermanfaat sesuai dengan tujuan disusunnya
makalah ini sebagai bahan belajar Psikologi Industri dan Organisasi. Amin.
Makassar, 15 Desember 2011
Penyusun,
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Kinerja SDM merupakan istilah yang berasal dari kata Job Performance atau Actual Performance (prestasi kerja
atau prestasi sesungguhnya yang dicapai seseorang). Bambang Kusriyanto (1991 :
3) mengemukakan bahwa kinerja karyawan adalah “Perbandingan hasil yang dicapai
dengan peran serta tenaga kerja persatuan waktu (lazimnya per jam)’’. Evaluasi
terhadap kinerja atau penilaian prestasi karyawan dilakukan untuk memperbaiki
atau meningkatkan kinerja organisasi melalui peningkatan kinerja dari SDM
organisasi yang sebenarnya bertujuan untuk lebih memajukan lagi organisasi itu
sendiri.
Dalam
suatu industri maupun organisasi ada banyak individu didalamnya dan
individu-individu tersebut memiliki latar belakang, kemampuan, dan kepribadian
yang berbeda-beda pula, sehingga dalam melaksanakan pekerjaan untuk mencapai
tujuan yang telah ditentukan bersama kemungkinan akan menemukan
kesulitan-kesulitan yang akan dihadapi. Maka kita perlu melakukan evaluasi
serta membutuhkan prosedur yang tepat untuk melakukan evaluasi dan setelah
evaluasi kita akan melakukan strategi yang dapat dilakukan untuk melakukan
perbaikan pada mutu organisasi.
1.2
Rumusan Masalah
1.
Apa prinsip dasar serta tujuan dari penilaian kinerja?
2.
Apa yang
menjadi sasaran dalam menilai kinerja serta faktor-faktor apa saja yang memengaruhi
pencapaian kinerja?
3.
Bagaimana
panduan evaluasi kinerja karyawan serta apa saja masalah dan
kesulitan dalam penilaian performa kerja?
4.
Bagaimana
metode peningkatan kinerja?
1.3
Tujuan
1.
Mengetahui prinsip dasar dan tujuan dari penilaian
kerja
2.
Mengetahui sasaran dalam menilai kinerja serta mengetahui
faktor yang memengaruhi pencapaian kinerja
3.
Mengetahui panduan evaluasi kinerja karyawan serta
mengetahui masalah dan kesulitan dalam penilaian performa kerja
4.
Mengetahui
metode peningkatan kinerja
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Prinsip Dasar dan Tujuan dari Penilaian Kerja
Prinsip
Dasar
Secara singkat dapat
disimpulkan bahwa prinsip dasar evaluasi kinerja sebagai berikut:
a.
Fokusnya adalah membina kekuatan untuk menyelesaikan setiap persoalan
yang muncul dalam pelaksanaan evaluasi kinerja. Jadi bukan semata-mata
menyelesaikan persoalan itu sendiri, namun pimpinan dan karyawan mampu
menyelesaikan persoalannya dengan baik setiap saat, setiap ada persoalan baru.
Jadi yang penting adalah kemampuannya.
b.
Selalu didasarkan atas suatu pertemuan pendapat, misalnya dari hasil
diskusi antara karyawan dengan penyelia langsung, suatu diskusi yang kontruktif
untuk mencari jalan yang terbaik dalam meningkatkan mutu dan baku yang tinggi.
c.
Suatu proses manajemen yang alami, jangan merasa dan menimbulkan kesan
terpaksa, namun dimasukkan secara sadar kedalam corporate planing,
dilakukan secara periodik, terarah dan terprogram, bukan kegiatan yang hanya
setahun sekali atau kegiatan yang dilakukan jika manajer ingat saja.
Tujuan dari Penilaian Kerja
Tujuan dari evaluasi
kinerja adalah untuk memperbaiki atau meningkatkan kinerja organisasi melalui
peningkatan kinerja dari SDM organisasi. Agus Sunyoto (1999:1) membagi tujuan
evaluasi kerja menjadi:
a.
Meningkatkan saling pengertian antara karyawan tentang persyaratan
kinerja.
b.
Mencatat dan mengakui hasil kerja seorang karyawan, sehingga mereka
termotivasi untuk berbuat yang lebih baik atau sekurang-kurangnnya berprestasi
sama dengan prestasi yang terdahulu.
c.
Memberikan peluang kepada karyawan untuk mendiskusikan keinginan dan
aspirasinya dan meningatkan kepedulian terhadap karier atau terhadap pekerjaan
yang diembannya sekarang.
d.
Mendefinisikan atau merumuskan kembali sasaran masa depan, sehingga
karyawan termotivasi untuk berprestasi sesuai dengan potensinya.
e.
Memeriksa rencana pelaksanaan dengan pengembangan yang sesuai dengan
kebutuhan pelatihan, khusus rencana diklat, dan kemudian menyetujui rencana itu
jika tidak ada hal-hal yang perlu diubah.
Berikut
ini dipaparkan beberapa kegunaan dari penilaian prestasi kerja (kinerja)
karyawan:
a.
Sebagai dasar dalam pengambilan keputusan yang dugunakan untuk prestasi,
pemberhentian dan besarnya balas jasa.
b.
Untuk mengukur sejauh mana seorang karyawan dapat menyelesaikan
pekerjaannya.
c.
Sebagai dasar untuk mengevaluasi efektivitas seluruh kegiatan dalam
perusahaan.
d.
Sebagai dasar untuk mengevaluasi program latihan dan keefektifan jadwal
kerja, metode kerja, struktur lorganisasi, gaya pengawasan, kondisi kerja dan
pengawasan.
e.
Sebagai indiktor untuk menentukan kebutuhan akan latihan bagi karyawan
yang berada didalam organisasi.
f.
Sebagai alat untuk meningkatkan motivasi kerja karyawan sehingga dicapai performance
yang baik.
g.
Sebagai alat untuk dapat melihat kekurangan atau kelemahan dan
meningkatkan kemampuan karyawan selanjutnya.
h.
Sebagai kriteria menentukan, seleksi dan penempatan karyawan.
i.
Sebagai alat untuk memperbaiki atau mengembangkan kecakapan karyawan.
j.
Sebagai dasar untuk memperbaiki atau mengembangkan uraian tugas (job
description).
2.2 Sasaran Penilaian Dalam Evaluasi
Kinerja serta Faktor-faktor yang
Memengaruhi Pencapaian Kinerja
Sasaran
Dalam Menilai Kinerja
Sasaran-sasaran
dan evaluasi kinerja karyawan yang dikemukakan oleh Agus Sunyoto (1999:1)
sebagai berikut:
a.
Membuat analisis kinerja dari waktu yang lalu secara berkesinambungan dan
periodik, baik kinerja karyawan maupun kinerja organisasi.
b.
Membuat evaluasi kebutuhan pelatihan dari seluruh karyawan melalui audit
keterampilan dan pengetahuan sehingga dapat mengembangkan kemampuan dirinya.
Atas dasar evaluasi kebutuhan pelatihan itu dapat menyelenggarakan program
pelatihan dengan tepat.
c.
Menentukan sasaran dari kinerja yang akan datang dan memberikan tanggung
jawab perorangan dan kelompok sehingga untuk periode selanjutnya jelas apa yang
harus diperbuat oleh karyawan, mutu dan baku yang harus dicapai, sarana dan
prasarana yang diperlukan untuk meningkatkan kinerja karyawan.
d.
Menemukan potensi karyawan yang berhak memperoleh promosi, dan kalau
mendasarkan hasil diskusi antara karyawan dengan pimpinannya itu untuk menyusun
suatu proposal mengenai sistem bijak (merit system) dan sistem promosi lainnya,
seperti imbalan (yaitu reward system recommendation).
Evaluasi kinerja merupakan sarana
untuk memperbaiki mereka yang tidak melakukan tugasnya dengan baik didalam
organisasi. Banyak organisasi berusaha mencapai sasaran suatu kedudukan yang
terbaik dan terpercaya dalam bidangnya. Untuk itu sangat tergantung dari para
pelaksananya, yaitu para karyawannya agar mereka mencapai sasaran yang telah
ditetapkan oleh organisasi dalam corporate planning-nya.
Untuk itu pula,
perhatian hendaknya ditujukan kepada kinerja, suatu konsepsi atau wawasan
bagaimana kita bekerja agar mencapai yang terbaik. Hal ini berarti bahwa kita
harus dapat memimpin orang-orang dalam melaksanakan kegiatan dan membina mereka
sama pentingnya dan sama berharganya dengan kegiatan organisasi.
Jadi fokusnya adalah
kepada kegiatan bagaimana usaha untuk selalu memperbaiki dan meningkatkan
kinerja dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari. Untuk mencapai itu perlu
diubah cara bekerja sama dan bagaimana melihat atau meninjau kinerja itu
sendiri. Dengan demikian, pimpinan dan karyawan yang bertanggung jawab langsung
dalam pelaksanaan evaluasi kinerja, harus pula dievaluasi secara periodik agar
efektif.
Faktor-faktor yang Memengaruhi Pencapaian
Kinerja
Faktor yang
memengaruhi pencapaian kinerja adalah faktor kemampuan (ability) dan faktor
motivasi (motivation). Hal ini sesuai dengan pendapat Keith davis dalam A.A.
Anwar Prabu Mangkunegara (2000: 67) yang merumuskan bahwa:
Human Performance = Ability x Motivation
Motivation = Attitude x situation
Ability = Knowladge x Skill
Secara psikologis,
kemampuan terdiri dari kemampuan potensi (IQ) dan kemampuan reality (knowladge
+ skill). Artinya, pimpinan dan karyawan yang memiliki IQ diatas rata-rata (IQ
110-120) apalagi IQ superior, very superior, gifted dan genius dengan
pendidikan yang memadai untuk jabatannya dan terampil dalam mengerjakan
pekerjaan sehari-hari, maka akan lebih mudah mencapai kinerja maksimal.
Sedangkan dari segi
motivasi, motivasi diartikan suatu sikap (attitude) pimpinan dan karyawan
terhadap situasi kerja (situation) di lingkungan organisasinya. Mereka yang
bersifat positif terhadap situasi kerjanya akan menunjukkan motivasi kerja
tinggi dan sebaliknya mereka yang bersifat negatif terhadap situasi kerjanya
akan menunjukkan motivasi kerja yang rendah. Situasi kerja yang dimaksud
mencakup antara lain hubungan kerja, fasilitas kerja, iklim kerja, kebijakan
pimpinan, pola kepemimpinan kerja dan kondisi kerja.
Menurut Hennry
Simamora (1995: 500), kinerja (performance) dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu:
a. Faktor individual yang terdiri
dari:
·
Kemampuan dan keahlian
·
Latar belakang
·
Demografi
b. Faktor psikologis yang terdiri
dari:
·
Persepsi
·
Attitude
·
Personality
·
Pembelajaran
·
Motivasi
c. Faktor organisasi yang terdiri
dari:
·
Sumber daya
·
Kepemimpinan
·
Penghargaan
·
Struktur
·
Job design
Kinerja individu
adalah hasil kerja karyawan baik dari segi kualitas ,aupun kuantitas
berdasarkan standar kerja yang telah ditentukan. Kinerja individu ini akan
tercapai apabila didukung oleh atribut individu, upaya kerja (work effort)
dan dukungan organisasi. Dengan kata lain, kinerja individu adalah:
a. Atribut individu, yang
menentukan kapasitas untuk mengerjakan sesuatu. Atribut individu meliputi
faktor individu (kemampuan dan keahlian, letar belakang serta demografi) dan
faktor psikologis meliputi persepsi, attitude, personality,
pembelajaran dan motivasi.
b. Upaya kerja (workeffort),
yang membentuk keinginan untuk mencapai sesuatu.
c. Dukungan organisas, yang
memberikan kesempatan untuk berbuat sesuatu. Dukungan organisasi meliputi
sumber daya, kepemimpinan, lingkungan kerja, struktur organisasi dan job
design.
Menurut A. Dale
Timple (1992: 31), faktor-faktor kinerja itu terbagi atas 2 bagian yaitu faktor
internal dan faktor eksternal.
a. Faktor Internal (Disposisional)
yaitu faktor yang dihubungkan dengan sifat-sifat seseorang. Misalnya, kinerja
seseorang baik disebabkan karena mempunyai kemampuan tinggi dan seseorang itu
pekerja keras, sedangkan seseorang mempunyai kinerja jelek disebabkan orang
tersebut mempunyai kemampuan rendah dan orang tersebut tidak memiliki
upaya-upaya untuk memperbaiki kemampuannya.
b. Faktor Eksternal yaitu
faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja seseorang yang berasal dari lingkungan.
Seperti perilaku, sikap, dan tindakan-tindakan rekan kerja. Bawahan atau
pimpinan, fasilitas kerja, dan iklim organisasi.
2.3 Panduan Evaluasi Kinerja Karyawan serta Masalah dan Kesulitan Dalam
Penilaian Performa Kerja
Panduan Evaluasi Kinerja Karyawan
Menurut James E. Neal Jr. (2003) panduan evaluasi kinerja karyawan yaitu:
1.
Akurasi
Pemenuhan standar akurasi:
Tidak Memuaskan
|
Di bawah rata-rata
|
Rata-rata
|
Memuaskan
|
Luar biasa
|
Jumlah kesalahan tidak dapat diterima
|
Membuat lebih banyak kesalahan daripada yang
normal
|
Menemukan standar akurasi normal
|
Biasanya akurat dengan seidikit kesalahan
|
Bersifat konsisten dan benar-benar akurat di
setiap saat
|
2.
Prestasi
Menyelesaikan tanggung jawab dan tugas.
Tidak Memuaskan
|
Di bawah rata-rata
|
Rata-rata
|
Memuaskan
|
Luar biasa
|
Gagal menyelesaikan tanggung jawab dan
tugas-tugas.
|
Gagal mencapai standar prestasi yang normal
|
Mencapai persyaratan kerja normal
|
Menunjukkan tingkat prestasi yang tinggi
secara konsisten
|
Menunjukkan kemampuan menyelesaikan tanggung jawab dan tugas yang luar
biasa.
|
3.
Administrasi
Menunjukkan efektivitas administratif
Tidak Memuaskan
|
Di bawah rata-rata
|
Rata-rata
|
Memuaskan
|
Luar biasa
|
Tidak dapat diterima, dalam hal ini
menyelesaikan tugas-tugas administrasi
|
Gagal mencapai standar normal kompetensi
administratif
|
Menunjukka efektivitas yang normal dalam
menunjukkan tugas-tugas administratif.
|
Sangat cakap dalam pertanggung jawaban
administratif.
|
Menunjukkan kerja yang istimewa dalam
mencapai tingkat evektifitas administrasi yang sangat tinngi.
|
4.
Analitis
Analisa secara efektif
Tidak Memuaskan
|
Di bawah rata-rata
|
Rata-rata
|
Memuaskan
|
Luar biasa
|
Tidak dapat diterima, dalam hal ini
menganalisa elemen situasi yang kritis
|
Gagal mencapai standar rata-rata dalam
menganalisa permasalahan dan situasi
|
Menunjukkan kecakapan rata-rata ketika
dihadapkan dengan situasi-situasi analitis
|
Menggunakan logika yang masuk akal dan
beralasan dalam menganalisa masalah-masalah dan situasi sulit
|
Menunjukkan keahlian luar biasa secara penuh
dalam menganalisa situasi dan mengambil langkah yang sesuai.
|
5.
Komunikasi
Berkomunikasi dengan orang lain
Tidak Memuaskan
|
Di bawah rata-rata
|
Rata-rata
|
Memuaskan
|
Luar biasa
|
Tidak dapat diterima, dalam hal
berkomunikasi dengan orang lain.
|
Menunjukkan kemampuan berkomunikasi yang
kurang
|
Berkomunikasi dengan kemampuan rata-rata
|
Berkomunikasi dengan sangat efektif dengna
pihak lain
|
Melampui komunikasi efektif yang tinggi
|
6.
Kompetensi
Menunjukkan kemampuan dan kualitas
Tidak Memuaskan
|
Di bawah rata-rata
|
Rata-rata
|
Memuaskan
|
Luar biasa
|
Gagal menunjukkan kemampuan dan kualitas
yang dapat diterima
|
Menunjukkan tingkat kompetensi yang lemah
|
Rata-rata dalam menunjukkan kemampuan dan kualitas
|
Menunjukkan kompetensi yang kuat
|
Menunjukkan kemampuan dan kualitas yang
dapat diterima dalam menyelesaikan tanggung jawab
|
7.
Kerjasama
Bekerja sama dengan orang lain
Tidak Memuaskan
|
Di bawah rata-rata
|
Rata-rata
|
Memuaskan
|
Luar biasa
|
Tidak dapat diterima, dalam menunjukkan
kerja sama
|
Menunjukkan minimnya kerjasama
|
Rata-rata dalam kerjasama dengan orang lain.
|
Menunjukkan kemampuan kerja sama yang kuat
|
Sangat luar biasa dalam bekerja sama dengan
orang lain disemua tingkat
|
8.
Kreativitas
Menunjukkan daya imaginasi dan daya kreatif.
Tidak Memuaskan
|
Di bawah rata-rata
|
Rata-rata
|
Memuaskan
|
Luar biasa
|
Sangat tidak layak dantidak dapat diterima
dalam menunjukkan kreativitas
|
Kemampuan kreativitas dibawah rata-rata
|
Menunjukkan daya kreatif dan keahlian yang normal
|
Memiliki gagasan konseptual yang baik serta
aplikasi-aplikasi praktis
|
Menunjukkan keahlian yang luar biasa pada imaginasi kreatif dan
aplikasinya.
|
9.
Pengambilan keputusan dan
pemberian solusi
Tidak Memuaskan
|
Di bawah rata-rata
|
Rata-rata
|
Memuaskan
|
Luar biasa
|
Tidak dapat menunjukkan kerja yang dapat
diterima dalam pengambilan keputusan
|
Menunjukkan kemampuan pengambilan
keputusan yang di bawah rata-rata
|
Membuat keputusan yang beralasan dalam sebagian besar situasi
|
Membuat keputusan yang logis dan konsisten
sesuai fakta yang terdokumentasi
|
Sangat kompoten dalam pengambilan keputusan
yang logis yang disertai solusi praktis
|
Dalam hal ini sebenarnya
ada 22 kinerja yang akan di evaluasi dengan format yang sama. Selain 9 yang ada
di atas yaitu pendelegasian, dapat diandalkan, improvisasi, inisiatif, inovasi,
keahlian interpersonal, keputusan, pengetahuan, kepemimpinan, pembelajaran,
manajemen, motivasi dan negosiasi.
Masalah
dan Kesulitan Dalam Penilaian Performa Kerja
1.
Overweighing
dari kejadian baru-baru ini, menguntungkan atau tidak menguntungkan, sementara
kejadian sebelumnya cenderung terlupakan. Pikiran kita dapat hanya
mempertahankan sejumlah detail, sehingga wajar bahwa insiden baru-baru ini
berdiri keluar. Solusinya adalah konsisten dokumentasi,
tanggal dan file untuk penggunaan masa depan. Rating harus berfokus pada peristiwa-peristiwa yang
terisolasi, tapi juga
harus memperhatikan dan mengevaluasi pola perilaku.
2.
Keengganan
untuk membuat peringkat buruk karena takut mereka mungkin harus dibahas panjang
lebar dengan karyawan. Beberapa orang menikmati konfrontasi. Untuk beberapa
manajer, cukup mudah untuk menghindari sesuatu yang negatif selama kinerja
review. Menghindari perangkap ini dengan beberapa perencanaan sebelum penilaian
awal bijaksana. Mencoba untuk masalah negara tanpa menempatkan karyawan dalam
sikap defensif. Fokus pada masalah, bukan orang. Ini terbaik dilakukan
menggunakan komentar yang dimulai dengan 'Saya' daripada 'Anda.' Ingat karyawan harapkan untuk mendengar baik positif dan negatif selama
Tinjauan kinerja.
3.
'Efek halo.'
Karyawan yang umumnya suka dipandang sebagai unggul dalam segala hal. Di sisi
lain, jika kepribadian mereka tidak menyukai, mereka menjadi kekurangan banyak
ciri. Memisahkan masalah kepribadian dari pekerjaan performancecan menjadi
hampir mustahil, terutama di kantor kecil. Semua staf Anda, Anda mungkin
findThomas yang paling disukai, tetapi penampilannya pekerjaan keseluruhan
adalah persoalan, tidak affability nya. Ketika ditanya, sebagian besar karyawan
mengatakan mereka ingin kritik konstruktif, untuk melakukan pekerjaan mereka
lebih baik. Menghilangkan efek halo dengan berjuang untuk objektivitas.
Mengevaluasi hanya kinerja kerja, tidak kepribadian. Ketika Anda menulis catatan
untuk penilaian, memeriksa mereka erat untuk melihat persis apa Anda
benar-benar mengevaluasi; pekerjaan selesai atau orang.
4.
Keengganan
pengawas untuk meluangkan waktu atau membuat upaya untuk menganalisis karyawan
mereka benar-benar. Kesalahan ini bisa menjadi akibat dari tidak ada
dokumentasi, (dengan demikian sedikit atau tidak ada untuk berbicara tentang
selama evaluasi) sekadar kurangnya waktu atau tidak adanya deskripsi pekerjaan
saat ini. Menghindari ini dengan menjaga pekerjaan deskripsi up to date dan
meninjau mereka sebelum evaluasi. Meluangkan waktu untuk memantau semua
karyawan sebagai individu. Jangan meremehkan pentingnya biasa penilaian oleh
mengabaikan mereka sepenuhnya atau tergesa-gesa melalui mereka selama beberapa
saat kendur. Tidak meluangkan waktu untuk mengevaluasi karyawan mengirim pesan
yang jelas bahwa Anda tidak peduli tentang apa yang terjadi di kantor atau
hanya tidak dapat diganggu.
5.
Kecenderungan
untuk menggeneralisasi dari jelas atau sebagai contoh dari perilaku karyawan.
Karyawan perlu spesifik. Jika Anda tidak jelas dan terlalu umum tentang apa
yang Anda harapkan dari seorang karyawan, orang itu akan memiliki waktu sulit
untuk membuat perbaikan yang diperlukan. Menjaga tujuan/harapan Anda sejelas
mungkin. Ingat, pola-pola yang baik atau buruk insiden signifikan, tidak satu
kali. Jika Anda ingin Cindy menjadi lebih sopan kepada pelanggan, menaruh
harapan itu dalam kata-kata selama evaluasi. Memberikan saran nya dan kerangka waktu yang wajar untuk meningkatkan. Kemudian
menonton dan mendokumentasikan apa yang terjadi.
6.
Kurangnya seragam kriteria atau standar kinerja. Jika rating kriteria tidak
konsisten, karyawan mungkin merasa mereka diadakan untuk standar yang berbeda.
Ini dengan mudah dapat menimbulkan masalah rekan kerja kebencian, klaim memihak
atau diskriminasi. Hindari ini dengan memastikan bahwa semua pekerjaan
tugas-tugas secara jelas dijabarkan dalam deskripsi pekerjaan. Karyawan harus
memahami bagaimana mereka menjadi dinilai... seperti geser nomor skala, atau
sistem penilaian yang abjad, dll (lihat catatan tambahan di bawah ini pada
konsistensi) sedapat mungkin, menjaga harapan konstan untuk semua orang.
Sebagai contoh, jika aturan negara semua orang harus menyerahkan permintaan
liburan mereka setidaknya enam minggu di muka, maka harus ada ada pengecualian.
7.
Mencoba untuk
mencapai terlalu banyak dalam terlalu sedikit waktu. Kesalahan ini biasanya
berarti berusaha untuk menjejalkan semua komunikasi utama antara pengawas dan
karyawan tentang gaji, kebutuhan pelatihan dan perencanaan ke satu pertemuan
tahunan. Menghilangkan masalah ini jelas dengan
mendorong dialog terbuka dengan semua karyawan sehingga umpan balik dapat
berlangsung. Selain itu, bekerja di luar waktu yang lebih realistis untuk
menangani isu-isu komunikasi lain. Jika beberapa karyawan memerlukan pelatihan
komputer tambahan, misalnya, ini mungkin akan dibahas pada pertemuan staf
bulanan. Atau, gaji ulasan bisa Ruangan Khusus untuk delapan minggu setelah
Tinjauan kinerja tahunan untuk mengambil ke account perbaikan atau kekurangan
sejak evaluasi.
8.
Kecenderungan
untuk mengembang peringkat. Sebagai aturan umum, pengawas memberikan bawahan
mereka meningkat evaluasi kinerja. Miskin karyawan dinilai sebagai tidak
kompeten, marjinal karyawan sebagai memuaskan, memuaskan karyawan di atas
standar dan baik karyawan sebagai layak untuk memenangkan hadiah Nobel. Masalah
ini dapat diatasi dengan meninjau melewati penilaian, daripada memulai dari
awal setiap waktu. Juga, karyawan harus tidak dievaluasi dalam abstrak, tetapi dalam
hubungan satu sama lain. Ini dapat dilakukan melalui penggunaan komparatif peringkat.
9.
Kebutuhan untuk
menggunakan untuk keuntungan pribadi, seperti mencoba untuk menang yang
subordinat kebaikan atau menjaga karyawan dari berhenti. Ini bisa memanifestasikan
dirinya dalam berbagai cara, tergantung pada orang dan keadaan yang terlibat.
Berikut adalah contoh mungkin satu: Anda merasa John adalah karyawan Anda
paling berdedikasi, tapi Anda sudah mendengar desas-desus ia telah ditawarkan
posisi gaji yang lebih tinggi di tempat lain. Anda hanya dijadwalkan liburan
lama ditunggu dan Anda benar-benar tidak punya waktu atau kemauan untuk
menemukan penggantian. Evaluasi kinerja merindukan tanda sepenuhnya dan berubah
menjadi berbasa-basi ke membujuk John untuk tinggal.
10. Perlu memberikan rekan-rekan atau lainnya informasi yang
akan tidak mempermalukan rating. Dalam contoh ini, rating keliru merasa situasi
adalah refleksi pribadi atas atau pekerjaannya sebagai seorang manajer. Contoh:
'tak satu pun dari karyawan saya tampil di kurang dari 100 persen, atau saya
tidak akan menjaga orang.' Akan apapun luar memandang karyawan Anda sebagai
sempurna? Tidak mungkin. Evaluasi kinerja setiap diatur oleh sifat manusia,
tetapi mereka dapat menjadi alat yang berharga mereka itu dimaksudkan untuk
menjadi, bukan drama tahunan yang dimainkan oleh atasan dan bawahan. Ego
harus mengambil kembali kursi dalam situasi ini.
2.4 Metode Peningkatan Kinerja
Perbandingan Metode
Perbandingan
metode penilaian kinerja melibatkan beberapa bentuk perbandingan kinerja
seorang pekerja dengan kinerja orang lain. Prosedur ini relatif mudah untuk
diimplementasikan dalam organisasi kerja dan termasuk peringkat, perbandingan
berpasangan, dan distribusi paksa. Perbandingan metode:
metode penilaian kinerja yang melibatkan perbandingan kinerja satu pekerja
terhadap para pekerja lainnya.
Peringkat
Metode komparatif peringkat membutuhkan pengawas untuk peringkat bawahan langsung mereka dari yang terbaik sampai terburuk pada dimensi kinerja spesifik, atau untuk memberikan peringkat komparatif keseluruhan terhadap kinerja. Peringkat: metode penilaian kinerja yang melibatkan peringkat disupervisi dari terbaik ke terburuk.
Metode komparatif peringkat membutuhkan pengawas untuk peringkat bawahan langsung mereka dari yang terbaik sampai terburuk pada dimensi kinerja spesifik, atau untuk memberikan peringkat komparatif keseluruhan terhadap kinerja. Peringkat: metode penilaian kinerja yang melibatkan peringkat disupervisi dari terbaik ke terburuk.
Paduan
perbandingan
Metode penilaian kinerja di mana
penilai membandingkan setiap pekerja dengan setiap pekerja lain dalam kelompok.
Paksa
distribusi
Menugaskan pekerja untuk kategori
mapan miskin untuk kinerja yang baik dengan keterbatasan tetap pada berapa
banyak karyawan yang dapat ditugaskan untuk masing-masing kategori.
INDIVIDUAL
METODE
Hal ini lebih umum untuk karyawan yang
harus dievaluasi dengan menggunakan apa yang bisa disebut "metode
individu". Metode individu melibatkan mengevaluasi karyawan sendiri /
dirinya sendiri. Namun, meskipun peringkat yang dibuat secara individual,
penilaian menggunakan metode individu masih dapat membuat perbandingan
Peringkat satu karyawan individu dengan penilaian individu karyawan lainnya.
Grafis
Penilaian Timbangan
Metode penilaian kinerja menggunakan
skala yang telah ditetapkan untuk menilai pekerja pada dimensi pekerjaan yang
penting.
Perilaku
Berlabuh Penilaian Timbangan (BAR)
Penilaian kinerja teknik menggunakan
skala penilaian dengan label yang mencerminkan contoh yang buruk, rata-rata,
dan insiden perilaku yang baik.
Perilaku
Observation Scales (BOS)
Penilaian kinerja metode yang
mengharuskan penilai untuk mengingat seberapa sering seorang pekerja telah
diamati melakukan perilaku kerja kunci.
Checklist
Metode penilaian kinerja menggunakan serangkaian pernyataan tentang kinerja.
Metode penilaian kinerja menggunakan serangkaian pernyataan tentang kinerja.
Narasi
Terbuka laporan tertulis kinerja seorang pekerja yang digunakan dalam penilaian kinerja.
Terbuka laporan tertulis kinerja seorang pekerja yang digunakan dalam penilaian kinerja.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Evaluasi kinerja merupakan sarana
untuk memperbaiki mereka yang tidak melakukan tugasnya dengan baik didalam
organisasi. Banyak organisasi berusaha mencapai sasaran suatu kedudukan yang
terbaik dan terpercaya dalam bidangnya. Untuk itu sangat tergantung dari para
pelaksananya, yaitu para karyawannya agar mereka mencapai sasaran yang telah
ditetapkan oleh organisasi dalam corporate planning-nya.
Kinerja individu adalah hasil kerja
karyawan baik dari segi kualitas ,aupun kuantitas berdasarkan standar kerja yang
telah ditentukan. Kinerja individu ini akan tercapai apabila didukung oleh
atribut individu, upaya kerja (work effort) dan dukungan organisasi.
Motivasi diartikan suatu sikap
(attitude) pimpinan dan karyawan terhadap situasi kerja (situation) di lingkungan
organisasinya. Mereka yang bersifat positif terhadap situasi kerjanya akan
menunjukkan motivasi kerja tinggi dan sebaliknya mereka yang bersifat negatif
terhadap situasi kerjanya akan menunjukkan motivasi kerja yang rendah. Situasi
kerja yang dimaksud mencakup antara lain hubungan kerja, fasilitas kerja, iklim
kerja, kebijakan pimpinan, pola kepemimpinan kerja dan kondisi kerja
SARAN
DAFTAR PUSTAKA
Mangkunegara, Anwar. 2005. Evaluasi Kinerja
SDM. Bandung; PT Refika Aditama
Ringgio R.E. 2003. Industrial /
organizational psychology. USA; Prentice Hall
Tidak ada komentar:
Posting Komentar